Siapa yang tak kenal Letto? Dengan ‘Sebelum Cahaya’nya yang diputar tiap hari primetime sebagai soundtrack sinetron Cahaya, anak-anak kecil yang lewat pulang ngaji di depan rumah saja fasih menyanyikan lagu yang adem ini. Saya suka lagunya. Dalam. Dipikir-pikir, malah ngga refer ke ‘cinta’ yang dimaksud kebanyakan ABG. Ah..mungkin saya yang bertambah tua
uhukkk…
Tapi yang membuat saya tertarik bukan hanya liriknya yang puitis atau suara Noe yang merdu. Yang bikin saya lebih tertarik adalah video klipnya. Belum nonton? Bisa dilihat disini. Ini bukan video klip biasa. Kenapa? saya Sarankan anda nonton dulu sebelum lanjut membaca
Ya, tebakan anda tepatt!
Tokoh utamanya menggunakan bahasa isyarat.
Ini bukan tema biasa. dan jelas sangat tidak biasa di tengah masyarakat yang masih mengecualikan saudara-saudara kita ini dalam kehidupan sosial. Seperti juga tuna netra yang biasanya hanya dianggap pantas menjadi tukang pijat, keberadaan tuna-rungu, tuna-daksa, apalagi tuna grahita juga dipersoalkan sebagai hal yang mampu menjadi aib keluarga. Lebih jauh, bukan saja anak-anak luar biasa ini yang menjadi sasaran hina-menghina. Pendidiknya pun tidak kalah kena hantam. Menjadi guru di sekolah luar biasa menjadi sebuah tantangan pada kebanggaan mengajar dan berdedikasi pada masyarakat.
Saat ini, dimana semakin banyak institusi pendidikan luar biasa swasta yang elite makin bermunculan, profesi ini memang semakin dihargai. Tapi tidak begitu di masa dulu. Kenapa? Karena saya juga merasakan dampak dari keadaan ini.
Apa yang saya lihat?
Ibu saya Guru SLB bagian B, tuna rungu. Dari sekian banyak jenis guru di gang kami, ibu lah yang diprediksi bakal punya banyak anak bodoh cuma gara-gara beliau bekerja di SLB. SLB diidentikkan dengan virus, bisa menular. bahkan jadi guru-nya pun bukan pekerjaan yang bisa dipandang layak :P betapa menggelikan. Sejak kecil, kami juga sering diejek kiri kanan. Bahkan oleh Guru esde. Sesama anak Guru SLB tidak mau saling menyapa di SMP, malu kalau ketahuan anak Guru SLB. Banyak lagi hal menyakitkan yang begitu saja dicapkan oleh lingkungan, bukan hanya kepada anak-anak luar biasa, namun kepada semua pihak tingkat ketiga atau keempat yang berhubungan dengan mereka.
Tapi yang saya kagumi dari Ibu adalah cara beliau menanamkan kebanggaan pada kami semua, anak-anaknya. Sejak kecil, kami dibiasakan bersama mereka dan mengerti bahwa mereka adalah manusia yang sama dan sederajat dengan kita semua. Menjadi anak SLB/B bukan sama dengan menjadi anak dengan IQ kurang. Mereka sama, hanya berkomunikasi dengan cara berbeda, membaca gerak bibir dan bicara dengan bahasa jari. Saking kerennya bahasa isyarat, saya sempat belajar dan masih suka mengulang-ulang kata-kata yang dulu sempat dihapal
Apa hubungannya dengan Letto?
letto memberi titik balik pengakuan itu. Titik Balik yang sama pernah ada waktu shaya SMP. Masih ingat dengan sinetron ‘Pelangi di Matamu’? Dibintangi Mona Ratuliu, sinetron ini memberi salah satu kesan positif terhadap bahasa isyarat dan anak tunarungu. banyak teman yang awalnya suka tertawa kalau tahu saya anak guru SLB, jadi minta diajarin cara ‘mengucapkan’ pelangi di matamu. Tokoh wanita-nya berpendidikan, memberi kesan lebih positif terhadap anak tunarungu yang waktu itu dianggap punya kecerdasan rendah. Dan saya super bahagia saat Letto kembali memberikan titik balik ini setelah sekian lama masa rehat
Saya berhutang banyak pada mereka. Dan seperti juga impian Hellen Keller, saya ingin suatu saat banyak anak tunarungu Indonesia yang berkesempatan untuk meraih impian dan ilmu setinggi-tingginya, tidak kalah dengan saudara-saudara kita yang ada di luar sana. Suatu saat dimana bahasa isyarat menjadi salah satu bahasa global.
Dimana isyaratmu, adalah bahasa untukku..
-dina
wah, segitunyakah sabetsu di kalangan keluarga pendidik SLB?
menurut saya pribadi, pekerjaan ibu anda adalah pekerjaan yang mulia dan sederajat dengan pahlawan2 tanda jasa lain