seorang teman lama tiba-tiba mengirim komen di friendster, dunia maya penghubung masa lalu dan masa depan bagi banyak orang ini. guess what?
she is going to be married.
chotto matte, menikah bukan hal yang ganjil. menikah muda juga bukan hal baru. well, she’s 18, talented, and super smart. all that proved bahwa dia menikah semata-mata karena ga niat sekolah lagi memang berniat untuk menikah muda dan bukan karena kebanyakan remaja jaman sekarang yang cman sekedar menikah karena lupa pakai pengaman. poin yang bikin saya tertegun adalah, bahwa menikah bukan hanya isu milik mbak-mbak dan mas-mas usia 23 ke atas. bahwa menikah adalah sebuah isu general, bukan terbatas pada usia. mulai dari anak usia 9 tahun sampai nenek-nenek pun bisa saja nikah, dan bahwa di akhir usia masa remaja bisa jadi ini peringatan agar saya segera menimbang segala sesuatu tentang masa depan, including having family.
menikah itu prosedurnya gampang. lamar, KUA, mas kawin, saksi, tanda tangan, selesai. orang jaman sekarang yang bikin ribet adalah pusing-pusing bikin pesta kawinan gede-gedean dimana banyak dialog bermulai dengan kata ‘jeng..jeng.. tau ndak…?’ . regardless gampangnya prosedur nikah, yang susah adalah menemukan dengan siapa anda bakal menikah
siapa manusia yang dengannya kita bakal spend the rest of our life with?
dengan siapa?
Abu Aufa dalam Diary Kehidupan menceritakan kehidupan pernikahan yang mirip permen nano-nano. kalau orang pacaran doang keceplus asemnya bisa langsung teriak ‘pokoknya putus..putus..putusss!’, orang sudah nikah langsung bisa minta ‘talak..talak..talak!’ ndak bisa dong kayak begitu lagi. saya juga belum ngerti kayak gimana, cman kayakna cerai itu susah dan exhausting. ngga worth it lah. apalagi kalau kawinannya udah bela-belain jualan sapi sama sawah
jadi siapa manusia yang tepat untuk bisa diajak susah-senang bareng-bareng selama itu?
stabil emosinya
kata bu dosen kepribadian, prediktor utama langgengnya pernikahan adalah kestabilan emosi pasangan. terlihat common sense? humm.. sebenernya ngga common sense juga. banyak orang salah ngerti gmana susahnya punya emosi yang stabil dalam arti denotatif. bukan cman bisa mengendalikan emosi, manusia yang kayak begini bisa memilah memilih mana emosi yang perlu dikeluarkan dan mana yang ngga termasuk cara mengatasi macem2 emosi in, positif dan negatif. manusia yang sukar ditebak moodnya, swinging di antara 2 ekstrim secara kontinu bsa bikin pasangannya depressed. apalagi kalau sudah ada anak, beuh. bisa bikin situasi non kondusif buat perkembangan si kecil
dependability
ini kualitas kedua yang top. manusia-manusia yang saling support satu sama lain, saling menguatkan, dan selalu ada kalau yang lain sedang butuh. ini salah satu prediktor utama kebahagiaan setelah menikah. common sense lagi katanya gundulmu common sense, susah euy. cman prakteknya suka lupa dijalanin. stres setelah pernikahan kadang di luar ekspektasi, bikin saling lupa satu sama lain dan mengabaikan prinsip ini. (lagi-lagi ini diturunkan dari pengalaman para dosen..
)
waktu pelajaran ini, dengan ajaibnya semua orang bangun
saya mah biasanya tidur sampai selesai bangun terus dong
similarity
katanya, birds of a feather flocks together. suka merhatiin kalo pasangan2 biasanya mirip satu sama lain? katanya sih, orang lebih suka sama yang mirip dirinya sendiri. bahkan masalah fisik juga. dari semua kesamaan, kayakna yang fundamental adalah agama dan kebudayaan. agama ini to me untolerable sementara kebudayaan, kita biasanya menyeleksi banyak orang yang deket dengan kita tanpa sadar bahwa kita memilih lingkungan yang kayak gini. buat contoh yang budaya misalnya, walaupun sama-sama orang jawa, jawa timur dan jawa tengah amazingly berbeda dalam hal logat dan ‘level kehalusan’. apa yang halus di situbondo bisa jadi kasarnya solo. Jelas, manusia yang biasanya lekat dengan masa kecil akan memilih kenyamanan yang sama dengan yang didapat waktu masih kecil. dari sini kita memilih orang-orang yang memberikan kenyamana yang sama: kesamaan adat dan budaya.
hubungannya dengan ibunya?
satu pemikiran saya adalah, nikahilah orang yang cinta keluarganya. keluarga adalah pemberi kasih sayang utama selama tumbuh dewasa. orang yang cinta keluarganya biasanya akan berusaha yang terbaik untuk membuat sebuah keluarga yang di antaranya saling menyayangi, sebuah keluarga yang sama dengan pandangannya tentang keluarga itu sendiri. orang-orang yang cinta pada keluarganya ini berpikiran positif tentang masa depan dan percaya semua masalah bisa diselesaikan tanpa kekasaran.
uniknya, saya memperhatikan bahwa orang-orang seperti ini biasanya sangat dekat dengan ibu mereka. mungkin karena ibu adalah pemberi kasih sayang utama dan cenderung lebih terbuka untuk memperlihatkan rasa sayangnya. dalam memutuskan masalah mereka selalu mempertimbangkan pendapat ibu dan sampai setelah menikahpun, ibu masih wanita utama yang ada di hati mereka bisa jeles ni >.<. dakara, kebahagiaan mereka juga ditentukan seberapa bahagia ibu untuk pernikahan mereka.
ngeliat kiri kanan dan menyesal kenapa sampai sekarang masih jomblo saya menyimpulkan juga bahwa memang peran ibu mertua dalam kebahagiaan pernikahan itu gede. kakak saya misalnya, saking deketnya, biasa minta dipijetin kalau pulang ngantor, si ibu juga suka masakin dan kayakna mereka fun banget hikss..ngiri.. di lain pihak, ada juga sepupu saya yang ibu mertuanya rese’ banget dan mereka ngga get along quite well. walhasil the marriage also suffer lor. banyak lagi kasus-kasus yang saya denger tentang impact ibu mertua dalam sebuah pernikahan. lucu, seru, kadang-kadang bikin dahi ngerut. buat yang dapat ibu mertua kurang ramah sukurin,makana dulu jangan cman pacaran sama anaknya dunk saya cman bisa mendoakan yang sabar de. biasanya kalo diramahin terus, bsa berubah impresi lo *menghibur mode*
jadi?
well, menikah itu memang susah-susah gampang dan ngga ditentukan banget sama usia. buat nikah juga bukan cuman modal ’siap’ doang, tapi kudu siap jadi orang yang bisa digantungkan karena menikah bukan cman 2 individu yang lagi legal ttm-an. sudah memutuskan nikah? well, pedekate dulu sama ortunya. apalagi ibunya. kalo shaya kayakna bakal mertimbangin ibunya dulu baru anaknya
well, mothers always know the best for their children. kalo pepatah lama bilang ‘menikahi seseorang itu sama dengan menikahi keluarganya’ i’ll say it ‘menikahi seseorang itu sama dengan menikahi ibunya’
selamat lebaran,
dina
teori yang bagus din
.
tapi kadang2, selain menikahi ibunya, menikahi adik ceweknya juga. hohohoho…
praktiknya kyknya susah.. (padahal lom pernah nyoba)
Edit: sekarang saya setuju setelah sadar klo dua brothers saya memakai cara ini.
@k’ fanny: biasanya kalo ke adik ceweknya itu pas pdkt sama kakaknya doang
kalo ke ibunya more serious le
@ ragung: wa. pake cara yg mana? pedekate sama ibunya?
eniwe, sila dicomot. kayakna lagi persiapan to?
Wah ruwet juga ya. Tapi dari pengalaman sih yang penting komitmennya gimana.
Ngak tahu ding pengalaman menikah saya baru 4 bulan jalan, jadi belum berani telalu banyak kasih komentar nih, belum pengalaman. he…he…he…
tolong tanyain ke abuaufa dong. kalau cerai kan susah dan exhausted. lha kalau kawin lagi gimana ? apa lebih ciamik ?