Ucapan, perbuatan, dan tingkah laku kita bukan terjadi semata-mata karena kebetulan belaka. Semuanya mencerminkan pikiran kita, alam bawah sadar yang dipaksa bungkam atas nama moral dan kesopanan. Tidak pernah ada prinsip ketidaksengajaan, apalagi sekedar kebetulan. Manusia jauh lebih terselubung daripada pintu asrama di pagi berkabut, namun jauh lebih terawang daripada sarang laba-laba baru dirajut.
Katakanlah. paragraf di atas adalah pemikiran Freud dari sudut pandang saya. Saya bukan fanatik Freud tapi marilah kita selalu mencoba kacamata yang berbeda dalam menemukan kacamata kita yang paling nyaman. Bagian paling indah dalam pencarian diri adalah moratoriumnya,bukan sekedar kepercayaan yang ditanamkan apa adanya aga kita lebih dari sekedar percaya.
Nothing happens by chance, hukum yang diungkapkan Freud dalam menganalisa pasien-pasiennya -wanita wanita terhormat yang berlimpah waktu dan uang. Semua gerak, laku, salah ucap, mimpi, semuanya adalah refleksi bawah sadar yang bahkan lebih tak terjangkau daripada dasar lautan. Bagaimana mempelajari dasar lautan yang beku ini? Kata Freud, bawa dasar lautannya naik ke permukaan. agar permukaan tahu apa yang tersembunyi di dalam sana, agar dasar laut tidak perlu lagi bingung kemana harus mengadu jika tekanan bumi sudah melampaui apa yang seharusnya ada, dan agar tidak perlu ada gempa dan tsunami yang akan merobohkan permukaan jika ada gunung berapi yang mampu menyalurkannya, bagian dasar laut yang nampak bagi permukaan.
Kata banyak orang Freud kuno. Kata saya, manusianya yang kuno. Bukan pemikirannya. Neo analitik hanya satu bukti bahwa dasar yang digariskan Freud dekat dengan realita. Mungkin semuanya bukan lagi masalah seksualitas belaka. Kelenturan zaman yang akan membawanya menemukan titik dimana keseimbangan itu terjaga: dunia bawah sadar dengan tekanannya yang selalu berubah alasan dan dunia dimana kita mendefinisikan konsep dari diri yang kita kenal.
Lucu. Bicara konsep ini saya mengenang tanah tempat saya lahir dan dibesarkan dimana semua hukum moral dan kesopanan kini makin mengabur. Semuanya digadaikan untuk prinsip yang mereka bilang ‘kebebasan’. Nilai tradisional dianggap kuno, tradisi kesopanan menjadi ajang basa-basi, orangtua bukan lagi manusia terhormat yang wajib didengarkan dan dipertimbangkan nasihatnya, baju tertutup dan pergaulan yang sopan menjadi simbol keusangan…. Masihkah ada alam bawah sadar jika tidak ada lagi yang perlu dipendam? masihkah superego terbentuk dalam membina keselarasan jika id -jiwa labil yang ingin dipuaskan selalu bebas muncul ke permukaan?
Kata Freud, nothing happens by chance. Mimpi, perkataan, dan tingkah laku, semuanya adalah cermin pemikiran kita yang sebenarnya, pengkhianat yang bermuka manis untuk menyuarakan pikirannya. seperti juga perubahan dunia, teori Freud akan makin tertinggal. mungkin karena memang dia tak sevalid apa yang diadaptasikan neo analitik atau mungkin karena kita yang sudah menghapusnya dari sistem yang kita sembah: modernisasi. Karena modernisasi pun bukan terjadi karena ketidaksengajaan. Ini adalah pilihan manusia.
Karena, nothing really happens by chance. Sore wa shinjiteimasu.
“Tidak pernah ada prinsip ketidaksengajaan, apalagi sekedar kebetulan.”
I’m totally aggree with that. About the other Freud?