Pengumpan:
Tulisan
Komentar

“Mbaak..Mbak!” bapak-bapak di exit gate Juanda itu teriak-teriak. Saya yang ndak ngerasa pantes dipanggil mbak-mbak cuek lenggang kangkung. Si Bapak makin heboh teriak.

“Mbaak..Mbak! plok, plok plok!”
wuidih pake tepok tangan! Berasa balik ke jaman 17 agustusan. Saya berhenti.
“Saya?”

“Iya, laporan dulu mbak. Masa lupa?”
“hah? laporan apaan ini pak?”
“Kesitu!” Nunjuk belakang. Ada tulisan segede bagong. Kantor Tenaga Kerja.
Saya mangap.Merogoh pasport. Mengeluarkan student pass.

“Bisa baca? Saya student”
“Oh”

Ngga ada maap dari si bapak. Cuma “Oh”. Setelah heboh nepok nepok sampai saya jadi tontonan seisi bandara, cuma “oh” aja. Aih, ramahnya sambutan fellow Indonesian di bandara. Ngga heran Juanda jadi bandara nomer satu dunia ye? hihihi.. *boong :p*

Awalnya heran juga. Pas year satu dan ngga pake kerudung, ga sekalipun saya dikeplokin di bandara gara-gara dikira tekawe. Padahal kalau diitung-itung, tahun pertama itu kalo balik saya lebih tragis lagi. Sendal jepitan, backpack, sama nge-jeans.Rambut kuncir satu, ngga pake disasak kayak ibuk2 indo yang suka ke takashimaya. Ibu aja sampe sedih ngeliat selera baju saya yang kayak cowok. Udah gitu maskapainya lebih ngga elit lagi: valuair.

Begitu year 2 dan mulai pake kerudung, belum selangkah dari gate uda dikeplokin. Padahal uda makin bener make baju dan juga mikir tiga kali buat make sendal jepit. Apa gara-gara saya item ya? hihihi.. Ada-ada aja. Sempet cerita-cerita sama kakak-kakak berkerudung yang lebi “bening” dan mereka kena juga tuh. Uhuy, ini bukan masala tampang berarti! hoho.. Ada tips kecil yang bisa dibagi: make kacamata dan bawa buku tebel. Paling ga kalo masi dikira tkw lagi lumayan buat nampol si mas-mas :D *lha?*

Kadang-kadang rada prihatin. Saya dan mbak-mbak itu sama-sama make kerudung. Tapi saya bisa ngeles pake studentpass dan dibebasin sementara mereka digiring ke kantor aneh itu buat diperes sampe kering. Pernah denger (baca: nguping) dari mbak-mbak kalo lagi ketemu di mesjid kedutaan, tentang perlakuan ga bener di juanda atau bandara apapun di indo kepada pra pahlawan devisa ini. Mereka pahlawan lo, namanya mentereng abis. Tapi kok perlakuannya ga bener. Hipokrit. *aih, jadi rada emosional*

Setelah dipikir-pikir, so what gitu lo kalo dikira tkw. Ngga bikin rugi. malah saya jadi lebih kreatif ngerjain si bapak bandara yang suka ngejudge seenak jidat *lha? Lumayan biar si bapak ngga mandang rendah orang pake kerudung! Bravo! *ups* Pas balik kemarin, waktu ditanyain, saya ngejawab make inggris dari awal sampe akhir sampe si bapak mangap. inggrisnya singlish lagi, nah lo XD Mungkin ntar balik bulan depan nyoba pake jepun kali yah :D

tanoshimi ne~

-dina

I am quite inspired by a blog post written by one of multiply-er about post card.

Before I shared my post-card life with you, I’d like to show off one of the latest postcard I received from the best friend I have ever had.
 
this is called picture postcard (e hagaki) which has: backside with picture:
and front side to write address and short news:
I received the card last december. It’s super unique. the date stamp on the stamp *haizzz..* is arranged according japanese structure of writing: YY MM DD. unlike our american based writing style (DD MM YY). She’s sending me the card to say Happy Eid. 
 
I think it’s sweet. It’s been a while since I send and receive postcards. more importantly, I have forgotten how it feels to get a surprise this way. Fast e-mails, unlimited internet access has drift me away from the fun of writing letters or postcards. Okagesamade (thanks to her), since then I start sending postcards to my family and friends, anxiously waiting for them to received and excitingly imagining their reaction to it :) It’s a sweet thing definitely. And I can understand why old folks can fall in love when e-mails’r not around. Mails make you wait. and waiting, makes you more  and more curious, devoting your interest to other person (ok, i should stop before this blog entry turn into psychological discussion -_-).
 
well, postcard is definitely a must-try ingredients to enhance your friendship and relationship with the ones you love. But beware to use a standard mail service, too long waiting will reduce the meaning, but too fast will not set the effect on the stage ;)
 
-dina

 

Beberapa hari ini terjadi sebuah perjanjian kerjasama di antara saya dan mbak tiko. Diawali dengan sebuah chatting gmail (jalur chat keluarga paling yahud) di pagi buta.

tiko : ‘kamu coba din. aq gagal!’

dina: ‘serius? oke, aku coba’

tiko : ‘kita coba sama-sama! berjuang!’

dina: ‘yosh!’

oke, adegannya jelas se-dramatik itu. secara saya dan kakak memang dua bersaudara dudul bin ajaib. kami memang tidak sedang merencanakan serangan fajar 1 maret (udah lewat oi..) tapi ada yang lebih penting dari itu. benar-benar penting. dan sayangnya kami gagal total! bayangkan, gabungan kekuatan server kampus singa dadagh saya dibantu server telkom-committed-to-you gagal menjangkau dunia maya yang satu ini, padahal selama ini saya donlot lagu suku kung! di ujung afrika aja ga ada masalah. ckckck… penasaran? misi kami adalah…

mengakses sebuah web.

kami dikalahkan sebuah web asal… Indonesia! Lebih hebatnya lagi, web maha-berat ini ternyata adalah sebuah web pemerintahan! lebihe mencengangkan lagi, web ini wajib diakses oleh para guru untuk memperoleh nomor unik pegawai. ckckck… jika bandwith kampus, yang selama ini membuat saya keliling dunia tanpa beranjak sedetik pun untuk garuk-garuk apalagi sikat gigi dan mandi luluran (ini yang terjadi waktu saya mencoba akses ke web ajaib ini), tidak bisa membawa satu judul pun keluar tanpa bersih-bersih seisi hall, apa yang terjadi dengan para guru yang harus mengaksesnya lewat kelemotan bandwith wartel indo? bayangkan setelah menunggu bertahun-tahun, page itu memberi pesan error. betapa banyak waktu, tenaga, dan materi yang terbuang percuma hanya untuk mengakses web yang bila diserahkan ke blogspot saja sudah jauh lebih mudah diakses.

Saya heran. sangat. Internet memang sebuah teknologi yang bisa dibilang berguna untuk pegawai pemerintahan, utamanya guru. Bukan hal yang salah jika ada sebuah tuntutan modernisasi untuk mulai me-maya-kan proses-proses administratif semacam nomer unik pegawai. TAPI yang saya super herankan adalah, kenapa tuntutan ini tidak diimbangi dukungan infrastruktur apalagi dibarengi kesiapan teknis dari diknas. bahkan membuat web yang bisa diakses pun ternyata sulit ya? *nyengir*

bahkan sampai detik ini, untuk ketiga kalinya saya mencoba, paling jauh saya hanya bisa mengakses page utama setelah nyaris 45 menit menunggu dan setiap kali mencari nomer unik orangtua saya (bapak dan ibu), semua penantian saya diakhiri pesan error. humm..

Modernisasi, adaptasi teknologi, apapun itu semuanya hanya akan jadi omong kosong dan menimbulkan banyak masalah jika tuntutan tidak disertai dukungan. terlalu banyak tuntutan untuk guru dengan dukungan yang minimalis. apalagi tidak semua guru di indo adalah guru dari sekolah yang berlimpah dana sehingga mampu mencapai teknologi yang terbaru dengan mudah. padahal, kualitas guru menentukan juga kualitas murid. ckckck.. Guru di Indonesia sepertinya perlu menunggu lebih lama lagi untuk sebuah penghargaan. pahlawan tanpa tanda jasa itu harus menunggu lagi. yang sabar ya pak, bu..

Tulisan ini ditutup dengan sebuah harapan untuk masa depan guru yang lebih baik. Amin.

dina : ‘eh udah kebuka :D

tiko : ‘masukin nama bapak geh..’

dina :’baru kebuka headernya..hehehehee..’

tiko :’yeeee….’

Hi all,been a while. Currently I am doing a small project and I need your response for this 2 mins survey. Please spare some of your time, it wont be long. I promise :) So go click here and I wish you a great week ahead! :)  thanks so much for your help! -dina 

definitely below my expectation.I warned you before you continue reading, that this is definitely not a ‘good-movie-you-can-give-standing-ovation’ ending of review. curious? press continue reading! Lanjut Baca »

[Katanya] Valentine’s Day

Bangun tdur dan langsung ngadep setumpuk lecture notes, rumet shaya sudah siap-siap ngampus. Setelah bye-bye basa-basi, tiba-tiba wajahnya nongol lagi di depan pintu. ‘Happy V-day, dina!’Saking semangatnya dia, saya sampai bengong. 10 menit kemudian baru nyadar setelah melirik kalender, oalah. 14 februari ka na.. tepat setelah itu sms dari komang masuk.isinya? Ndak jauh-jauh dari v-day juga :D Jagat blogosphere juga ikut ribut ternyata.  Lanjut Baca »

Isyaratmu, Bahasaku..

Siapa yang tak kenal Letto? Dengan ‘Sebelum Cahaya’nya yang diputar tiap hari primetime sebagai soundtrack sinetron Cahaya, anak-anak kecil yang lewat pulang ngaji di depan rumah saja fasih menyanyikan lagu yang adem ini. Saya suka lagunya. Dalam. Dipikir-pikir, malah ngga refer ke ‘cinta’ yang dimaksud kebanyakan ABG. Ah..mungkin saya yang bertambah tua :D uhukkk…

Tapi yang membuat saya tertarik bukan hanya liriknya yang puitis atau suara Noe yang merdu. Yang bikin saya lebih tertarik adalah video klipnya. Belum nonton? Bisa dilihat disini. Ini bukan video klip biasa. Kenapa? saya Sarankan anda nonton dulu sebelum lanjut membaca :)

Lanjut Baca »

Beberapa hari sebelum lebaran, banyak temen yang negur di milis, messenger, bahkan sms. pertanyaannya standar. kayakna mirip sama temen ini, dan jawaban saya juga standar kayak dia dan mahasiswa-mahasiswa lain: mepet.

ndak banyak yang bisa diharapkan sebagai mahasiswa numpang di negeri orang dari lebaran tiap tahunnya. jauh dari sanak sodara, duit ngepas, jatah liburan kurang. Kalau di indo ternyata bisa liburan sampe minggu-mingguan, di singapur lebaran cman libur sehari. tok. apesnya lebaran kali ini jatuh hari sabtu, yang memang hari liburan ngantor dan sekolah. praktis ndak ada libur tambahan :(

kalau Indonesia ribut-ribut lebarannya jumat atau sabtu, disini ndak ada istilah ribut. wong semuanya sudah ditentuin sama pemerintah. seluruh singapur yang memang cman sekelurahan itu, teng lebaran hari sabtu (denger2 majority juga sabtu ngerayainnya ternyata).

perayaan lebaran standar adalah: pergi ke KBRI dmana bisa solat ied dan ngomong indo sepuas-puasnya plus dimana ada makanan porsi mahasiswa kualitas resto obtainable free! (kata yang belakang ini paling penting :D ). standar prosedurnya kayak begini. tapi tetep sahaja ada banyak variabel yang susah dikontrol. gimana rasanya lebaran dsini?

Menikahi Ibunya :D

seorang teman lama tiba-tiba mengirim komen di friendster, dunia maya penghubung masa lalu dan masa depan bagi banyak orang ini. guess what?

she is going to be married.

chotto matte, menikah bukan hal yang ganjil. menikah muda juga bukan hal baru. well, she’s 18, talented, and super smart. all that proved bahwa dia menikah semata-mata karena ga niat sekolah lagi memang berniat untuk menikah muda dan bukan karena kebanyakan remaja jaman sekarang yang cman sekedar menikah karena lupa pakai pengaman. poin yang bikin saya tertegun adalah, bahwa menikah bukan hanya isu milik mbak-mbak dan mas-mas usia 23 ke atas. bahwa menikah adalah sebuah isu general, bukan terbatas pada usia. mulai dari anak usia 9 tahun sampai nenek-nenek pun bisa saja nikah, dan bahwa di akhir usia masa remaja bisa jadi ini peringatan agar saya segera menimbang segala sesuatu tentang masa depan, including having family.

menikah itu prosedurnya gampang. lamar, KUA, mas kawin, saksi, tanda tangan, selesai. orang jaman sekarang yang bikin ribet adalah pusing-pusing bikin pesta kawinan gede-gedean dimana banyak dialog bermulai dengan kata ‘jeng..jeng.. tau ndak…?’ . regardless gampangnya prosedur nikah, yang susah adalah menemukan dengan siapa anda bakal menikah :P siapa manusia yang dengannya kita bakal spend the rest of our life with?
seremnya… spent the rest of our life with the same person??

Ucapan, perbuatan, dan tingkah laku kita bukan terjadi semata-mata karena kebetulan belaka. Semuanya mencerminkan pikiran kita, alam bawah sadar yang dipaksa bungkam atas nama moral dan kesopanan. Tidak pernah ada prinsip ketidaksengajaan, apalagi sekedar kebetulan. Manusia jauh lebih terselubung daripada pintu asrama di pagi berkabut, namun jauh lebih terawang daripada sarang laba-laba baru dirajut. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.